Sugeng rawuh to our blog site

Sugeng rawuh to our blog site

serba serbi serabi G activity

Rabu, 06 April 2011

tugas ringkasan 3 bab mata kuliah Filsafat

Tugas Filsafat Ilmu
Nama               : Evi Irma Kristanti
Nim                 : 292009206
Kelas               : RGS09

FILSAFAT DAN ILMU
A.    Pengertian Filsafat ilmu
Filsafat ilmu adalah pengkajian ilmu secara filisofis, yaitu secara menyeluruh, mendasar, dan spekulatif dan dikaitkan dengan aspek ontology, epistemilogi, dan aksiologi.
Filsaft ilmu juga dapat disebut sebagai cabang filsafat yang berusaha menjelaskan unsure-unsur yang terlibat dalam pengkajian keilmuan, prosedur pengamatan, metode, dan nilai kegunaan dari ilmu (S.R Toulmin, dalam The Liang Gie, 1992).
B.     Ruang Lingkup Filsafat Ilmu
1.      Tiang penyangga utama dari filsafat ilmu ialah : ontologi, epistemology, dan aksiologi ilmu (Koento Wibisono S).
2.      Bagian filsafat ilmu ialah konsep dasar ilmu, metode ilmu, dan saling keterkaitan dari berbagai ilmu.
C.    Pengertian Ilmu
1.      Ilmu adalahcabang pengetahuan yang dihasilkan dengan deduct hypothetico verifikatif. (secara deduktuf dan induktif atau perpaduan antara rasionalisme dan empirisme). (Jujun S. Suriasumantri, 1986).
2.      Ilmu adalah rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan sistematis tentang fenomena alam dan kemanusiaan (Markx dan Hilix, dalam The Liang Gie, 1992).
Cabang ilmu filsafat menurut pandangan Prof. Jujun S. Suriasumantri yang berkaitan dengan rasionalismen dan empirisme sebagai berikut :
a.       Rasionalisme (termasuk Aliran Filsafat Abad ke-17)
Rasionalisme , menurut Frans Maginis Suseno (1990), memiliki beberapa karakteristik umum yaitu :
Ø  Rasionalisme sangat dipercaya pada kekuatan akal budi manusia.
Menurut kaum rasionalis, segala sesuatu dapat dan harus dimengerti secara rasional. Suatu pernyataan hanya boleh diterima sebagai “benar” apabila bisa dipertanggungjawabkansecara rasional.
Ø  Rasionalisme memberika penolakan terhadap tradisi dan dogma.
Otoritas mempunyai dampak pada segala bidang pengetahuan dan pada kehidupam masyarakat.
a.       Dalam bidang politik
Rasionalisme menuntut kepemimpinan rasional. Negara dianggap berasal dari suatu perjanjian antara individu-individu bebas, dannegara berada di bawah warga Negara.
b.      Dalam bidang agama
Mereka tidak mau dengan begitu saja menerima dogma yaitu ajaran agama tentang apa saja yang harus dipercaya supaya seseorang dianggapMereka tidak mau dengan begitu saja menerima dogma yaitu ajaran agama tentang apa saja yang harus dipercaya supaya seseorang dianggap beragama atau ditetapkan oleh otoritas religius.
c.       Dalam bidang ilmu pengetahuan
Rasionalisme sangat berpengaruh besar dalam ilmu pengetahuan yang sangat berkembang pesat pada saat itu. Ilmu yang dijalankan secara dogmatis ditolak dan mulai dicari dalil-dalil yang lebih rasional.
Ø  Rasionalisme mengembangkan metode baru dalam ilmu pengetahuan diantaranya metode deduksi.
Ø  Rasionalisme bersifat sekuler.Sekulerisme adalah suatu pandangan dasr yang membedakan Tuhan dan dunia dan menganggap dunia sebagai yang duniawi saja dan menghilangkan unsure-unsur yang keramat dan gaib dari dunia.
Tokoh-tokoh Rasionalisme sebagai berikut :
1.      Plato
Plato (428-348 SM) menggunakan cara berpikir dan metode filsafati yang memberi landasan pada rasionalisme.  Metode yang digunakan adalah kritis dialektis dengan spenuhnya percaya pada kemampuan berpikir dengan cara dialog yang terus menerus sehingga dicapai makna yang sesungguhnya. Metode ini bertolak belakang dengan realitas yang nyata dihadapi namun dengan metode dialektisnya, Plato dapat mencapai pengetahuan murni yang disebut episteme yaitu pengetahuan yang benar.
2.      Rene Descrates
Descrates (1596-1650) dikenal sebgai bapak Rasionalisme. menurut Decrates pengertian sudah tertanam dalam akal budi manusia sehingga setiap manusia memilki kemampuan berpikir. Kemampuan ini sudah dibawa sejak manusia dilahirkan.
3.      Benedictus Spinoza
Spinoza (1623-1677) adalah seorang filsuf keturunan yahudi. Ia menyelami segala yang ada dipermukaan bumi sampai pada substansi yaitu substasi yang bersandar suatu yang lain yaitu Tuhan. Pengetahuan menurut Spinoza terbagi atas beberapa tahap yaitu pengetahuan inderawi dan pengetahuan akal budi atau rasional. Pengetahuan yang tertinggi adalah pengetahuan intuitif atau pengetahuan murni (genuine knowledge). Pada tahap ini maanusia akan melihat segala sesuatu dalam perpektif keabadian.
4.      G.W.Leibniz
 G.W.Leibniz (1646-1716) mengajarkan bahwa substansi adalah suatu ada yang beraksi. ”Ada” adalah suatu aktifitas , berpikir, dan berkehendak. Leibniz mengajukan teori substansi yang disebut monade, dalam setiap monade selalu ada gagasan dan usaha. Yang dimaksud usaha adalah daya untuk mendapatkan gagasan yang abru dan jelas sehingga tercapailah gagasan yang jelas dan disadari. Isi pengetahuan menurutnya talah ada dalam dirinya dan merupakan bawaan dalam bentuk gagasan atau ide yang belum jelas.
b.      Empirisme
Aliran ini berpendapat bahwa empiri atau pengalaman merupakan sumber pengetahuan. Akal menurut mereka bukanlah sumber pengetahuan, karena akal sebenarnya hanya bertugas mengolah bahan-bahan yang diperoleh lewat pengalaman.
Paham empirisme diilhami oleh filsafat Aristoteles (384-322 SM) yang mengatakan bahwa pengetahuan terjadi bila subjek diubah di bawah pengaruh objek artinya bentuk-bentuk yang berada di luar diri diserap oleh subjek yang meninggalkan bekas-bekas dalam kehidupan batinnya. (Koento Wibisono 1989).
Di Timur Tengah, pemikiran ini dikembangkan oleh beberapa filsuf diantaranya Abu Musa ibn Mayyan, Abu yusuf Ya’cub al kindi dll.
Di Barat paham ini dikembangkan oleh Thomas Aquinas (1225-1274) dan Francis Bacon (1561-1626) yang mengatakan bahwa tiada sesuatu yang dapat masuk ke akal yang tidak dapat ditangkap oleh indera.
Tokoh-tokoh dalam pemikiran Empirisme sebagai berikut :
1.      John Locke
John Locke (1632-1704) dikenal sebgai bapak Empirisme. Dia berpendapat bahwa pengetahuan manusia didasarkan pada engalaman yang kemudian diterima dan diolah oleh akal budinya. Pengalaman bias berasal dari luar diri manusia, oleh Locke disebut sensasi, dan dapat juga berasal dari diri manusia, berupa pengalaman batin, yang disebut refleksi.
2.      George Berkeley
Berkeley (1685-1753) adalah seorang ahli pikir dari Irlandia. Dia berpendapat bahwa segala sesuatu yang diketahui manusia bersumber dari pengalaman bahwa adanya objek karena diterimanya barang atau sesuatu oleh indera. Berkeley meyakini bahwa pengetahuan kita bersandar pada pengalaman yang terjadi karena hubungan antar pengamatan antar indera yang satu dengan peneguhan indera yang lain. 
3.      David Hume
Hume (1711-1776) mendasarkan teori pengetahuannya pada pengalamn indera, bahkan lebih ekstrem berpendapat bahwa semua pengetahuan dapat disederhanakan menjadi pengetahuan indera saja.
Rasionalisme merupakan aliran berpikir yang bersifat deduktif sedangkan empirisme menggunakan pemikiran induktif.
D.    Batas-batas Penjelajahan Ilmu
Batas penjelajahn ilmu adalah dalam jangkauan pengalaman (empirik) manusia. Diluar jangkauan empiric adalah bukan ilmu. Berpikir ilmiah harus menggunakan metode ilmiah. Metode ilmiah menggunakan langkah deduktif dan induktif atau melalui metode penelitian.
E.     Problem Keilmuan (Bahm)
Menurut Bahm, probem keilmuan meliputi problem-problem berikut ini :
v  Komunikatif artinya mudah dipahami
v  Sikap ilmiah artinya ilmu memerlukan sikap ilmiah sebsb pengungkapan ilmu harus dengan sikap ilmiah.
v  Metode ilmiah artinya pemaduan metode deduktif dan induktif.
F.     Peranan Metode
Esensi dari ilmu adalah metode. Ilmu adalah selalu berubah. Teori yang diakui sekarang, mungkin tidak diakui lagi seratus tahunyang akan dating. Yang tidak berubah  adalah metode. Metode dapat satu dan dapat pula banyak. Satu artinya metode ilmiah memiliki unsur yang sama untuk semua ilmu secara fundamental. Berbeda /banyak karena tiap ilmu menggunakan prinsip-prinsip metode yang khas untuk ilmu tersebut.
G.    Dua Jenis Pengkajian Ilmu
Berdasarkan cara pengkajiannya ada dua jenis ilmu, yaitu yang bersifat kualitatif dan bersifat kuantitatif. Perbedaan keduanya antara lain adalah dalam hal :
v  Datanya
v  Sifat datanya
v  Peranan hipotesis
v  Peranan statistik
v  Sifat proses dan produk
v  Bebas nilai dan interaktif
v  Keterlibatan peneliti
v  Dapat digeneralisasi/studi kasus
Metode kualitatif menggunakan paradigma  fenomologi sedangkan metode kuantitatif dengan menggunakan paradigma positivisme
H.    Teori kebenaran
Jujun S. Suria Sumantri menyebut 3 hal teori kebenaran :
v  Teori koherensi : pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu koheren atau konsisten dengan pernyataan-pernyataan sebelumnya(deduktif). Tokohnya Aristoteles.
v  Teori korespondensi: pernyataan dianggap benar bila pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan) dengan objek yang dituju oleh pernyatan tersebut (induktif). Tokohnya Berthrand Russe.
v  Teori pragmatis : Kebenaran suatu pernyataan diukur dengan kriteria apakah pernyataan tersebut fungsional dalam kehidupan praktis atau tidak. Tokohnya Charles S. Piere, William James dll.
Disamping teori tersebut Van Peursen menyebut 3 tahap pemikiran manusia berkaitan dengan pandangan teori kebenaran.
v  Tahap milis : manusia berpikir serba alam dan menyatu dengan alam.
v  Tahap ontologis : manusia tidak tergantung dengan alam tetapi mengambil jarak dengan alam.
v  Tahap fungsional : cara memandang segala sesuatu dari segi nilai kegunaan barang sesuatuatau fungsi dari segala sesuatu.
Berkaitan dengan teori kebenaran Prof. Koento Wibisono menyebutkan adanya tafsiran tentang kebenaran yang menurut beliau  terdiri atas :
v  Materialisme : aliran ini memandang kebenaran berada pada alam, benda-benda materi, bukan dari kekuatan gaib atau roh. Tokohnya Demokritos dan Thomas Hobbes.
v  Idealisme : aliran ini mengakui juga roh atau batin sebagai penentu kebenaran, sehingga sering dinyatakan sebagai dualism (roh dan badan). Tokohnya : Rene Descrates
v  Pluralisme : aliran ini memandang bahwa kebenaran berada dimana-mana, bersifat plural. Hakikat kenyataan terdiri atas empat unsur, yaitu udara , api, air dan tanah (Empedokles).
v  Agnotisisme : aliran ini berpandangan bahwa tidak ada suatu cara atau pendekatan bagaimana pun untuk mencapai kebenaran karena kebenaran dan kenyataan itu tidak terjangkau oleh pikiran manusia. Yang dapat menjangkau kebenaran hanya Tuhan. Disebut juga Skeptisisme atau nihilisme. Tokohnya T.H. Huxley, Emmanuel kant (agnotisisme dianggap bagian hakiki dari positivisme), Empedokles, Anaxagoras.


Hikmah mempelajari filsafat ilmu bagi individu :
1.      Membiasakan diri untuk bersikap kritis
2.      Membiasakan diri untuk bersikap logis dan rasional
3.      Mengembangkan semangat toleransi

FILSAFAT DAN ILMU DALAM SEJARAH

A.             Filsuf - Filsuf Pertama
1.   Pemikiran yang bersifat filsafati , baru berkembang        abad VI SM. Pemikiran ini belum filsafat dalam arti           sempit, tetapi pemikiran ilmiah pada umumnya.
  2.  Ketiga filsuf pertama berasal dari Miletos, kota perantauan Yunani, dipesisir Asia kecil
`           3. Orang yang dapat gelar filsuf pertama, adalah :
                         a. Theles
                         b. Anaximandos
                         c.  Anaximenes
                 Kedua terakhir (Anaximandos dan Anaximenes)membukukan buah pikirannya, 
                 sayang buku tersebut hilang.
            4.   Ketiga filsuf ini tertarik pada kejadian alam, karena ada perubahan, terutama
                  pada :
                        a. Jagad raya (alam)
                        b. Musim
                        c.  Laut dsb.
Mereka mencari  azas dan prinsip yang tetap tinggal lama , di belakang perubahan yang tidak pernah berhenti . Jadi ada azas itu. Mereka berfikir, sekalipun ada perubahan dunia jasmani secara keseluruhan teratur, dan kejadian alamiah memilik ketetapan yang mengherankan.
5. Anaximandos mengatakan azas itu tak terbatas (to apeiron), sementara Anaximenes, azas itu ada pada udara. Theles mengatakan bahwa azas itu ada pada air. Mereka mencari  azas dan prinsip yang tetap tinggal lama , di belakang perubahan yang tidak pernah berhenti . Jadi ada azas itu.
6. Satu abad kemudian lahir filsuf Herakleitos.
                 Ia menyangka bahwa api , adalah merupakan azas           dasar. Mengapa api, sebab api itu adalah perubahan. Tegasnya : Tidak ada sesuatu,
a). Yang definitif
                       b). Segala sesuatu itu senantiasa sedang terjadi (pantha rhei) semua mengalir.
7. Pada waktu yang sama Pythagoras mengatakan bahwa : “Segala sesuatu yang ada itu, dapat diterangkan dengan bilangan-bilangan”. Hal ini dijelaskan bahwa tangga nada (not-not) sepadan dengan perbandingan bilangan-     bilangan.
Pythagorasberjasa dalam bidang ilmu pasti. Mereka berfikir, sekalipun ada perubahan dunia jasmani secara keseluruhan teratur, dan kejadian alamiah memilik ketetapan yang mengherankan.
8. Anaximandos mengatakan azas itu tak terbatas (to apeiron), sementara Anaximenes, azas itu ada pada udara. Theles mengatakan bahwa azas itu ada pada air.
9. Parmenides, awal abad V SM, filsuf pertama yang mempraktekkan methafisika, yaitu mempelajari yang ada atau be-ing. Methafisika memandang bahwa : “Yang ada sejauh   ada, yang ada itu ada, yang tidak ada, tidak ada”.Parmenides pendapatnya bertentangan dengan pendapat Herakleitos. Para filsuf sesudahnya hanya kagum pada pendapatnya, akan tetap tidak rela, kalau kesaksian panca indra dikatakan rasio. Menurut  mereka : “Segala sesuatu yang  ada tentu            dari bagian bagian kecil yang dapat dapat dibagi-         bagi dalam bagian yang lebih kecil lagi (atom)
  B. Keemasan Filsuf Yunani
            1. Pertengahan abad  V  SM, Athena menjadi pusat baru seluruh kebudayaan Yunani. dalam bidang politik, Athena memiliki peranan yang penting di bawah Perikles. Sejak itu filsafat berpusat di Athena.
            2. Selain kelompok Perikles, ada kelompok lain yaitu kelompok Sofistik, pengikutnya diberi nama kaum Sofis. Mereka terkenal ahli pidato , sehingga terkenal. Mereka tidak studi alam lagi, melainkan studi manusia. Menurut Protogoras: “Manusia adalah ukuran segala-galanya”. Plato mendamaikan pertentangan pemikiran Heraklitos dan Parmenides. Heraklitos menganggap segala sesuatu berubah, tidak ada yang sempurna. Plato mengatakan: “Itu benar, tetapi yang sifatnya jasmani saja”. Parmenides mengatakan: “Yang ada = segalanya ada, sempurna tidak berubah”.
3.   Aristoteles   (384  - 322 SM) dari Slageria  daerah Thrake, Yunani Utara. Ia belajar di akademi Plato di Athena. Ketika Alexander Agung memerintah, Aristoteles membuka sekolah, namanya Lykeion (Lyceum). Kritik Aristoteles pada Plato, adalah tentang pengertian idea. Menurut Plato manusia itu ini dan itu, tegasnya manusia itu konkrit. Akan tetapi idea manusia, tidak terdapat dalam kenyataan. Aristoteles setuju tentang umum dan tetap. Ilmu pasti tidak bicara segitiga, ini, dan itu, tetapi bicara segitiga umum. Ia berpendapat, bahwa setiap benda jasmani, mempunyai bentuk dan materi. Bukan bentuk materi yang dapat dilihat, tetapi terlihat secara methafhisik. Theorinya disebut Helemorfisme. Pada kenyataannya materi pertama selalu mempunyai salah satu bentuk. Ilmu pengetahuan dimungkinkan atas dasar bentuk yang terdapat dalam setiap benda yang konkrit. Ia juga menerangkan dengan menyodorkan alternatif, bagi ajaran Plato tentang idea. Bentuk-bentuk menurutnya adalah idea yang sudah pindah ke bentuk benda konkret.
C. Masa  Hellenistis dan Romawi
1. Setelah tahun 325, Alexander  wafat,  kerajaan     pecah, tetap kebudayaan Yunani telah masuk ke kota-kota yang direbutnya. Kebudayaan itu sering disebut sebagai kebudayaan Hellenis. Kebudayaan ini         menjadi kebudayaa supranasional. Di bidang filsafat,tokoh yang menonjol adalah Plotinos. Pengaruh filsafat sebagai unsur pendidikan pada      jaman ini makin luas dan Athena menjadi pusatnya. Penekanan filsafatnya pada etika, yaitu           bagaimana manusia bertingkah laku.
2. Stoisisme
               Arti Stoa, adalah belajar di serambi yang bertiang. Mazhab Stoa didirikan di Athena oleh Zeno dari Kition. Mazhab ini mengajarkan bahwa jagat raya ditentukan oleh suatu kuasa, yang disebut logos (rasio). Oleh sebab itu kerjasama yang terjadi di alam, tidak dapat dielakkan. Berkat rasionalnya, manusia dapat bertindak bijak. Etika Stoisisme bersifat kejam dan menuntut  watak yang  sungguh-sungguh kuat. Oleh karena sesuai dengan watak Romawi yang fragmatis, maka Mazhab ini berkembang, terutama era Seneca (2065, dan Marcus Aurelius, 122-180).
3. Epikurisme (341-270 SM)
               Kelompok ini menghidupkan atomisme demokritis.          Menurut Epikurisme, segala sesuatu itu terdiri dari             atom, yang senantiasa bergerak secara kebetulan dan saling berbenturan satu dengan yang lain. Manusia akan hidup berbahagia, jika tidak ditakut-takuti oleh dewa.
4. Skeptisisme
           Mazhab ini dianggap mazhab yang tidak jelas,      melainkan suatu tendensi, oleh sebab itu disebut         aliran kesangsian . Mereka menganggap bahwa manusia tidak sanggup mencapai kebenaran. Pelopornya Pyrrho (365-275)
5. Eklektisisme
               Ini juga bukan mazhab, akan tetapi bersifat umum, dan    berusaha menyatukan pemikiran. Cicero(106-43) digolongkan kelompok ini. Philo (25 SM - 50M) berusaha mendamaikan agama             Yahudi dengan filsafat Yunani, khususnya filsafat Plato.
6. Neoplatonisme
                Puncak terakhir filsafat Yunani adalah ajaran Neo Platonisme. Aliran ini berusaha menghidupkan kembali filsafat        Plato. Pengikutnya Aristoteles, mazhab Stoa.
Ajaran sebenarnya adalah sintesa semua ajaran     filsafat. Penciptanya Plotinos (204-269). Ajaran sebenarnya adalah sintesa semua ajaran filsafat. Penciptanya Plotinos (204-269). Ia lahir di Mesir, dan usia 40 tiba di Roma untuk mendirikan sekolah. Kelompok ini menyebut Allah sebagai yang satu. Mereka Mengatakan bahwa semua makhluk tersusun secara hierarkhi, puncaknya adalah Yang Satu.
               Proses pengeluaran yang satu itu, dikeluarkan oleh akal budi (nus). Akal budi adalah idea-idea Plato.
Pikiran lain, mazhab ini menyebutkan bahwa Herarkhi itu dari bawa ke yang lebih tinggi.  Langkahnya:
             a).   Penyucian, manusia melepaskan diri dari materi dengan laku tapa.
             b).   Penerangan, ia diterangi pengetahuan tentang idea-idea akal budi
                        c).   Penyatuan, dengan Tuhan yang melebihi segala pengetahuan.
            Langkah yang terakhir ini ditunjukkan oleh Plotinos dengan nama Ekstosis.  
v  Masa Patristik
                  Nama Patristik (dalam bahasa Latin = patres) yang   menunjukkan bapa-bapa Gereja, atau pujangga-        pujangga Kristen meletakkan dasar intelektual untuk agama Kristen. Ini terjadi abad pertama Masehi. Merekalah yang merintis teologi Kristen . Secara kronologis termasuk masa kuno, tetapi secara         filsafati termasuk peralihan
v  Pemikiran abad pertengahan.
  Abad 7 dan 8 orang-orang Arab merebut Siria,Mesir, Afrika Utara, dan sebagian Spanyol. Kota Alexandria jatuh tahun 640, sekolah-sekolah ditutup. Melalui fisuf-filsuf Kristen di Siria, orang-orang Arab berkenalan dengan filsafat Yunani. Pada abad 8 dan 9, beberapa sarjana diundang ke istana Bagdad, dan karya-karya filsafat Yunani diterjemahkan terutama karya Plato, Aritoteles, dan sejumlah karya Neoplatonis Terjemahan ini menjadi titik tolak gerakan filsafat di Arab berlangsung hampir selama tiga abad di Bagda dan Cordoba(Spanyol).Sementara itu di Eropa Timur hidup budaya Yunani Kristiani selama abad pertengahan dengan pusat Byzantium.
v  Jaman Keemasan Patristik Latin.
Abad ke 4, sering disebut masa keemasan pemikiran Kristiani. Tokoh yang paling terkenal adalah Augustinus (354-430), sebagai pemikir paling penting masa Patristik Latin. Karangan yang termasyhur  adalah Confessiones (Pengakuan-pengakuan). Ia pengagum Plato dan Aristoteles. Ajarannya adalah :
a. Illuminasi, kebenaran ada pada rasio Illahi,dan rasio Illahi menerangi rasio Insani. Allah adalah guru batiniah, bertempat dibatin kita dan menerangi roh manusia.
b. Dunia Jasmani, mengalami perkembangan terus- menerus, yang kesemuanya tergantung Allah. Hal ini terjadi karena Allah menciptakan benih-benih (rasiones seminales), yakni prinsip aktif perkembangan jasmani.
c.   Manusia, dia menganut prinsip dualisme yaitu jiwa sebagai substansi menggunakan tubuh, tetapi tubuh tidak merupakan sumber kejahatan. Kejahatan adalah dosa yang berasal dari kehendak kebebasan. Karena ajaran yang mampu mencapai abad 13, maka dia dianggap guru utama  Abad  Pertengahan.
v  Permulaan Skolastik
Abad 5-9 ada perpindahan bangsa-bangsa dari Asia ke Eropa. Bangsa Jerman juga pindah melewati perbatasan Romawi. Tahun 410 Romawi jatuh ke tangan bangsa Got Barat lahirlah kericuhan sehingga era itu tidak ada perkembangan filsafat. Di era antara purba dan pertengahan muncul filsuf terakhir Romawi, yaitu Boethius (480-524). Dia merupakan filsuf Skolastik pertama dan menjadi guru logika . Dia pengarang traktat
v  Karel Agung.
Di era dia, Alcuinus, rahib Benediktin diundang. Raja ini membuka sekolah-sekolah. Ada tiga macam sekolah, (a).Sekolah gabungan biara, (b). Sekolah yang di tanggung Uskup, dan (c). Sekolah yang dibuka raja. Studinya tidak lepas teologi, dan tokohnya Tomas Aquinas (abad 13). Tokoh lain Scotus Eriugena, guru sekolah istana. Berdasarkan filsafat Neo platonisme, ia menulis sintesa teologi. Anselmus, tokoh biara di Bec. Ia mengeluarkan   semboyan rasio dan iman atau Credo ut Intelligam atau saya percaya supaya saya tahu. Allah bukan saja dalam pemikiran tetapi uga dalam kenyataan. Jadi Allah ada.
 D. Ada Beberapa Peristiwa
1.      Pada abad 12 lahir dua cara mengajar, yaitu :
a). Dalam bentuk kuliah
b). Dalam bentuk diskusi
Kuliah dalam bentuk aplikasinya komentar pada   teks-teks tradisi Kristen, dengan buku pegangan Sententiane tulisan Petrus lombardus (1100-1160).
2.      Peristiwa lain abad 13 dianggap masa keemasan Skolastik karena pada saat itu dihasilkan beberapa sintesa filosofis
3.      Lahirnya Universitas
Perkembangan lain pada abad itu ada beberapa peristiwa adalah lahirnya:
(a). Universitas; (b). Lahirnya beberapa ordo biara; (c). Beberapa karya filsafat dimanfaatkan untuk pelajaran. Selain dari itu karya Aristoteles tentang Logika masuk ke Barat melalui dua jalan, yaitu:
                       (a) Jalan tak langsung, melalui filsuf Arab,seperti 
                                   (1) Ibn. Sinna (980 – 1037) latinnya AVICENNA.
                                   (2) Ibn. Rushd latinnya AVERROES (1126-1198), yang hidup di Cordova 
                                   (3). Salamon Ibn. Geribol latinnya AVICERBON, dan Mose Mainmonides yang ternyata menjadi sumber bagi Thomas Aquines.
   (b) Cara langsung, karya terjemahan dari bahasa     Yunani ke bahasa Latin.
                                Tokohnya Bonaventura, Siger, Albertus Agung,           Thomas Aquino.
4.       Ada pemikiran yang muncul antara lain :
                       a. Penciptaan, semua ciptaan tergantung Allah.
b. Pengenalan akan Allah, akibat kemampuan rasio insani, mereka mengenal Allah.
c. Hellimorfisme, Thomas yang menyempurnakan ajaran Aristoteles menegaskan dua prinsip methafisis (metha = menguasai, fisis = alam).       
d. Manusia, Thomas menyempurnakan ajaran Aristoteles, yang menekankan manusia dalam kesatuan. Manusia adalah suatu substansi lengkap (Berfikir, berkehendak dsb.)
5.      Johanes Duns Scotus, tokoh ordo Fransiska.
Dia berpendapat bahwa ontologis dapat dimanfaatkan  adalah ditambah koreksi yaitu harus dibuktikan kemungkinan wujud yang tak terhingga.
6.      Akhir Abad Tengah, ada perkembangan baru lahirnya Via Antiqua dan Via Modern.
7.      Via Antiqua, penganut mazhab Skolastik, mazhab ini termasuk tradisional, dan tidak ada pemikiran yang tangguh.    
8.      Via Modern, tokohnya Guliemus dari Ockham (1285-1349), sempat bertentangan dengan Paus tentang  filsafat teologinya. Ajarannya mengarah empirisme, yang mengatakan bahwa segala sesuatu itu bersifat individual. Ia mengatakan bahwa indra mengenal langsung obyek, pengenalan indrawi dapat bersifat intuitif dan abstrak sebab pengenalan itu dari intelektual. Pendiriannya extrem , sering disebut minisme atau nominalisme.
  Dibidang methafisika, dia berprinsip dua yaitu:
(a). Ockham’s razor, yang menyatakan bahwa entitas tidak
                             boleh dilipat gandakan, bila tidak perlu. Artinya sesuatu realistik methafisika tidak boleh diterima, jika tidak ada dasar yang teguh.
(b). Apa yang bisa dibedakan, bisa dipisahkan. Berkat  fikirannya  methafisika terhindar dari diskusi yang steril.       
9.       Nicolaus Cusanus , ia uskup Brixxen.
 Pendapatnya bahwa pengenalan ada tiga:
                       a). Pengenalan pancaindra, menghasilkan hal yang tidak sempurna.
b). Rasio membentuk konsep akibat pengenalan indrawi dan aktivitasnya dikuasai non kontradiksi tidak mungkin sesuatu ada serentak tak ada. Pengenalan rasio tidak melebihi dugaan,hanya kasar dan hanya mencapai realitas pengetahuan yang tertinggi tidak tercapai (docta ignirantia)
c). Intuisi, dapat mencapai  tak terbatas, obyek filsafat tertinggi, yang di dalamnya tidak ada pertentangan, jadi prinsip non kontradiksi tidak berlaku. Intuisi tidak dapat diexpresikan dengan bahasa rasional sebagai ganti

E. Masa Modern
A. Menuju Renaissance
Ø  Abad tengah berakhir dengan munculnya Renaissance pada abad 15 dan16.Renaissance artinya kelahiran kembali , artinya usaha menghidupkan kembali kebudayaan klasik Yunani-Romawi. Kebudayaan klasik dijadikan contoh  kembali. Tokoh pertama adalah: Petrarca (1304-1374) dan Boccacio (1373-1375), mereka cukup terkenal dengan gerakannya yang humanisme, yang mencari inspirasi  dari kesusasteraan Yunani dan Romawi.   
Ø  Perkembangan baru muncul sebagai pengetahuan modern dengan methode experimental dan matematik, membukarintisan perkembangan ilmiah. TokohnyaLeonardo da Vinci, Nicolaus Copernicus, dan Johannes Kapler, serta Galileo dan Galilei (1564-1643).  
Hikmah mempelajari filsafat ilmu dalam sejarah :
1.      Untuk mengenang peninggalan sejarah di Indonesia.     
2.      Agar kita dapat melestarikan warisan budaya nenek moyang kita.
3.      Agar kita tidak meninggalkan sejarah tetapi kita dapat menjaga dan merawat agar tidak habis untuk anak cucu kita. 

EPISTEMOLOGI

a.       Pengertian Epistemologi
Cabang ilmu filsafat yang secara khusus menggeluti pertanyaan-pertanyaan yang bersifat menyeluruh dan mendasar tentang pengetahuan disebut Epistemologi. Istilah epistemologi berasal dari kata yunani episteme = pengetahuan dan logos = perkataan, piliran, ilmu. Kata episteme dalam bahasa yunani berasal dari kata kerja episteme artinya mendudukkan, menempatkan atau meletakkan. Secara harfiah episteme berarti pengetahuan sebagi upaya intelektual untuk menempatkan sesuatu dalam kedudukan setepatnya. Selain kata episteme untuk kata pengetahuan dalam bahasa yunani juga dipakai kata gnosis maka istilah epistemologi dalam sejarah juga disebut gnoseologi.
Epistemologi adalah suatu disiplin ilmu yang bersifat evaluatif,normatif dan kritis. Evaluatif berarti bersifat menilai, ia menilai apakah suatu keyakinan, sikap, pernyatan pendapat, teori pengetahuan dapat dibenarkan, dijamin kebenarannya, atau memiliki dasaryang dapat dipertanggungjawabkan secara nalar. Normatif berarti menentukan norma atau tolak ukur, dan dalam hal ini tolak ukur kenalaran bagi kebenaran pengetahuan. Kritis berarti banyak mempertanyakan dan menguji kenalaran cara maupunhasil kegiatan manusia mengetahui.

b.      Cara kerja Epistemologi
Bicara tentang cara kerja atau metode pendekatan epistemologi berarti bicara tentang ciri khas pendekatan filofofis terhadap gejala pengetahuan. Pengetahuan bukan haya menjadi objek kajian ilmu filsafat, tetapi juga ilmu-ilmu lain, seperti ilmu psikologi kognitif dan sosiologi pengetahuan. Yang membedakan ilmu filsafat secara umum dari ilmu-ilmu lain bukanlah objek materialnya apa yang dijadikan bahan kajian itu didekati. Ciri khas cara pendekatan filsafat terhadap objek kajiannya tampak dari jenis pertayaan yang diajukan dan upaya jawaban yang diberikan.
c.       Macam-macam Epistemologi
Ø  Epistemologi Metafisis
Adalah epistemologi yang mendekati gejala pengetahuan dengan bertitik tolak dari pengandaian metafsika tertentu.
Ø  Epistemologi skeptis
Adalah epistemologi yang membuktikan dulu apa yang dapat kita ketahui sebagai sungguh nyata atau benar-benar tidak dapat diragukan lagi dengan menganggap sebagai tidak nyata atau kelirusegala sesuatu yang kebenarannya masih dapat diragukan.
Ø  Epistemilogi kritis
Adalah epistemologi yang tidak memprioritaskan metafisika atau epistemoligi tertentu, melainkan berangkat dari asumsi, prosedur, dan kesimpulan pemikiran ilmiah sebagaimana kita temukan dalam kehidupan, lalu kita coba tanggapi secara kritis asumsi, prosedur, dan kesimpulan tersebut.



d.      Mengapa epistemologi dipelajari
Alasannya :
1.      Berdasarkan pertimbangan strategis kajian epistemologi perlu karena pengetahua sendiri merupakan hal yang secara strategis penting bagi hidup manusia. Strategi berkenaan dengan bagaimana mengelola kekuasaan atau daya kekuatan yang ada sehingga tujuan dapat dicapai. Pengetahuan pada dasarnya adalah suatu kekuasaan atau daya kekuatan.
2.      Berdasarkan pertimbangan kebudayan, penjelasan yang pokok adalah kenyataan bahwa pengetahuan merupakan salah satu unsur dasar kebudayaan. Berkat pengetahuan manusia dapat mengolah dan mendayagunakan alam lingkungannya. Ia  dapat mengenali permasalahan yang dihadapi, menganalisis, menafsirkan pengalaman dn peristiwa-peristiwa yang dihadapinya, menilai situasi serta mengambil keputusan untuk berkegiatan. Dari segi petimbangan kebudayaan, mempelajari epistemologi diperlukan pertama-tama untuk mengungkap pandangan epistemologis yang sesungguhnya ada dan terkandung dalam setiap kebudyaan.
3.      Berdasarkan pertimbangan pendidikan, epistemologi perlu dipelajari karena manfaatnya untuk bidang pendidikan. Pendidkan sebagai usaha sadar untuk membantu peserta didik mengembangkan pandangan hidup, sikap hidup dan ketrampilan hidup, tidak dapat lepas dari penguasaan pengetahuan. Pendidikan sebagai upaya sadar dan terencana untuk membantu peserta didik mengembangkan dirinya sebagai manusia seutuhnya memang tidak hanya terbatas pada pengembangan kemampuan intelektualnya. Pendidikan juga perlu mengembangkan peserta didikmenuju kematanganspiritual, moral, emosional, dan sosialnya. Akan tetapi, dalam kesemuanya itu aspek pengetahuan tetap berperan. Apalagi kalau pengetahuan yang dimaksud bukan hanya pengetahuan tentang alam dunia dengan berbagai isinya, tetapi juga pengenalan tentang diri sendiri sebagai manusia yang berziarah menuju Tuhan, asal dan tujuan segenap ciptaan.
Dari alasan pragmatis yang dikemukakan diatas juga dapat menunjukkan bahwa epistemologi, sebagai salah satu cabang dalam disiplin ilmu filsafat, masih tetap relevan atau berguna untuk dipelajari.    
Hikmah mempelajari epistemologi :
1.      Kita dapat bersikap rasional bukan irasional dalam ilmu pengetahuan.
2.      Kita dapat mengembangkan pengetahuan apa yang kita miliki kepada orang lain.
3.      Kita dapat bersikap disiplin dalam hidup.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar